Pages

Sabtu, 22 Agustus 2015

Photography & Lomography

Halo! Dalam beberapa post ke depan berencana posting tentang my interest. Ok, here the first.

PHOTOGRAPHY & LOMOGRAPHY

Semua orang kayaknya udah tahu tentang fotografi. Jadi kayaknya nggak perlu dijelasin panjang lebar lagi tentang fotografi. Simpelnya, fotografi adalah seni melukis dengan cahaya. Ok, jadi aku bakal cerita kenapa awalnya aku suka atau memiliki ketertarikan sama fotografi. Sebetulnya nggak ada momen yang bersejarah banget. Waktu kita kecil pastinya orang tua kita sering mengabadikan kejadian-kejadian atau sekedar memfoto kita. Dari kecil aku juga udah liat foto aku waktu masih bayi atau foto-foto kakak-kakakku atau bahkan foto orang tuaku sewaktu mereka menikah. Dan dalam ingatanku, kejadian yang paling diingat saat ada sesi foto-foto yaitu saat ulang tahunku yang ke-7, sepertinya haha atau ke-6 ya? Pokoknya waktu kita sekeluarga baru pindah ke rumah kita yang sekarang. Ulang tahunku berada di pertengahan tahun dan (hampir selalu) di saat liburan sekolah. Jadi ulang tahunku tidak pernah dirayakan besar-besaran dengan mengundang banyak teman seperti beberapa temanku yang lain waktu itu. Waktu itu hanya dirayakan dengan keluarga saja. Kebetulan orang tuaku tidak memiliki kamera waktu itu jadi kami meminjam kamera milik adik mamahku. Dan waktu itu kameranya masih memerlukan roll film atau bisa disebut dengan kamera analog. Seingatku kamera digital udah ada waktu itu tapi harganya masih mahal. Dan setelah roll filmnya habis, orang tuaku mencetak foto-foto tersebut. Sayangnya sekarang foto-foto tersebut tidak tahu dimana :(

Dan entah ada ilham darimana atau ada apa kejadian apa waktu itu, saat kelas 5 SD aku ingin punya kamera digital. Maka dari waktu itu aku bertekad menabung untuk membeli kamera digital. Yang sebelumnya uang tabungan yang aku punya ingin aku belikan sebuah tenda agar aku bisa camping di dalam ataupun di luar rumah huahaha. Akhirnya saat kelas 6 SD aku berhasil membeli  kamera digital sendiri yang dibelikan kakakku (maksudnya kakakku yang pergi ke toko membelinya), yaitu kamera digital Sony DSC-S500, 6 megapixels, dan menggunakan batere AA. Awalnya aku ingin membeli kamera digital yang dicas, tetapi jadinya kakakku membeli kamera yang menggunakan batere. Dan sebagai anak SD aku merasa sangat bangga punya kamera yang dibeli dengan uang tabungan sendiri B-)
My first camera :D
Kamera tersebut aku gunakan untuk mengabadikan banyak momen. Aku ingat pernah membawa kamera saat syukuran renovasi kelas baru (saat kelas 6). Lalu memfoto teman-teman di rumahku waktu itu. Dan aku berusaha memfoto teman-temanku yang sedang melompat jadi hasil fotonya kelihatan mereka seperti terbang hahaha. Lalu saat perpisahan SD pun aku bawa kamera tersebut. Lalu saat ada penayangan konser Westlife di Indonesia tahun 2006, OMG 9 tahun lalu ternyata hahaha, aku sempat merekam konser mereka yang ditayangkan di TV wkwkwk. Dan saat SMP pun aku sering menggunakannya. Sayangnya kamera nya pernah rusak di tahun 2009, tapi sempat diperbaki sih. Lalu rusak lagi di tahun 2010. Sampai saat ini kameranya tidak diperbaiki lagi. Dan tidak pernah dipakai huhu agak sedih juga. Aku sempat menyalakannya lagi sih tapi sayang tidak bisa dipakai menjepret foto.

Dan setelah itu kakakku mulai mengenalkanku pada dunia Lomografi, yang masih bagian dari fotografi. Dulu kakakku punya kamera lomo Diana. Dan tanpa tahu apa-apa aku cuma ikut foto aja haha. Sampai akhirnya kamera itu dijual dan tiba-tiba kakakku menawarkan untuk patungan beli kamera lomo Holga. Aku yang waktu itu ingin punya kamera lomo ya setuju saja. Walaupun sebenarnya dulu tidak tahu apa-apa tentang lomografi.
Lomo Diana
Lomo Holga 120 CFN
Akhirnya bertualang dan bereksperimenlah aku dengan lomo Holga. Dimulai dengan mengisi roll film ke toko Seni Abadi. Dan ternyata baru sadar waktu itu langsung ditawarin film slide haha harganya lumayanlah. Lalu setelah roll habis, cuci scan dan alhamdulillah fotonya jadi walaupun ada yang beberapa nomer roll yang miss. Yap, first try maklum haha. Karena format filmnya 120, jadi dalam satu roll paling banyak cuma bisa jepret 16x. Aku hampir nyerah sama Holga karena kebodohan sendiri yang lupa buka penutup lensa misalnya atau kenapa pas liat hasil jepretan kok nggak sesuai sama apa yang diliat di viewfinder sih? Yap, this is analogue dude. Dan akhirnya aku terbiasa. Setelah itu kakakku menawariku membeli kamera lomo lain yaitu, La Sardina. Waktu itu jenis ini masih tergolong baru ada. Dan alhamdulillah bisa punya juga. Tidak lupa terima kasih kuucapkan pada kakak pertama yang mengenalkan dan membantu soal per-kamera-an. La Sardina nya seri Orinoco Ochre.
La Sardina Orinoco Ochre - Reptilia Edition
Yap mulailah lagi petualangan dan eksperimen dengan si Oco ini. Tapi.. dalam roll pertama, aku harus merasakan pahitnya pengalaman menggunakan kamera analog.. Isi roll nya kosong.. Cuma ada satu foto yang jadi, itu juga di nomer terakhir. Dan ternyata aku kurang membuka penutup lensanya dengan benar. Dan itu roll saat liburan di Jogja kelas 11.. Untung aku bawa kamera Fisheye One punya kakak keduaku yang waktu itu lagi suka lomografi juga. Oiya si Oco dan kamera Fisheye ini format filmnya 35mm, jadi dalam satu roll bisa sampe 36x jepret atau kadang lebih beberapa. Oiya sebelum beli La Sardina aku sempat dua kali mencoba kamera Fujica M1 milik teman kakakku. Yang aku isi pakai roll film BW.
Fisheye One 35mm
Fujica M1
Udah cukup lama aku pakai kamera lomo dan merasakan suka dukanya. Tapi semuanya nggak ngebuat kapok dan malah selalu ingin eksperimen terus-terusan. Aku coba berbagai jenis roll film, walaupun belum terlalu banyak juga. Buat liat hasil-hasil jepretanku pakai kamera lomo, bisa diliat di http://lomography.com/homes/latifar. Ada juga hasil jepretanku pakai kamera Fuji Instax Mini punya kakak pertama haha lumayan ekspolarasi juga sama kamera ini. Banyak pengalamannya juga.

Fuji Instax Mini 7S
Ah iya, dalam per-kamera-an, tidak lupa aku ucapkan terima kasih juga pada kamera-kamera handphone ku yang telah membantu aku belajar fotografi. Yaitu handphone Sony Ericsson W595 dan iPhone 3GS. Kamera kalian luar biasaaa walau kelihatannya biasa-biasa saja. Kalian juga bisa liat hasil jepretan dari kamera handphone ataupun lomo di photoblog ku atau di instagram ku.

Tanpa disadari aku punya ketertarikan yang sangat besar sama fotografi dan juga lomografi. Aku merasa ada kepuasan tersendiri saat mengabadikan suatu momen. Walaupun waktu zaman-zamannya kamera DSLR booming aku sempet kepikiran ingin punya, dipikir-pikir aku lebih beruntung bisa punya kamera lomo. Banyak hal yang bisa dipelajari dari kamera analog. Dari mulai kesabaran, ketekunan, ketelitian, dan banyak lagi.

Nggak tahu kenapa aku suka banget ngejepret dan nggak terlalu suka dijepret. Dan sampai sekarang kalau ikut kepanitiaan seringnya jadi panitia dokumentasi hahaha. Yap, ada yang bilang dengan kita memfoto sesuatu atau kejadian, kita dapat menghentikan waktu. Keren bukan? Dan baru-baru ini aku nemu salah satu ungkapan yang bilang kalau..
 "Taking photos increase your appreciation of life."

Sabtu, 03 Januari 2015

Film Indonesia


Halo! Long time no see! Udah satu tahun lebih nggak nulis disini. Kangen juga. Kalau di blog sebelah masih sering ngepost sih. Kebetulan lagi pengen ngepost tentang film nih. Tepatnya mau review singkat (banget) film-film Indonesia yang saya tonton di 2014. Atau lebih bisa dibilang cerita tentang pengalaman pas nonton film tersebut. Di tahun 2014 perfilman Indonesia lumayan maju nih. Walaupun tema 'adaptasi novel yang diangkat ke layar lebar' masih mendominasi, tapi ada beberapa film dengan tema baru dan bahkan nggak biasa. Ok, here we go.


1. The Raid 2: Berandal

Film Indonesia paling fenomenal nih. Sekuel dari film The Raid sebelumnya. Filmnya sampe Hollywood dan ratingnya 8,1/10 di imdb! Adegan berantemnya keren banget. Tapi ngeri liat darahnya hih. Para aktornya mainnya total. Ini waktunya film action Indonesia bangkit! 
P.S. Pas nonton film ini saya sama temen-temen saya makan klepon bikinan temen saya, Nanda wkwkwk nggak tau kenapa pas mau akhir film tiba-tiba ada yang inget kleponnya Nanda masih ada, terus pada makan deh. Lumayan buat ngilangin enek liat darah sepanjang film hahaha jadi inget ceritanya Indra Herlambang juga di buku Kicau Kacau yang makan klepon sambil nonton film 3D. Dan jujur, klepon adalah makanan terunik yang pernah saya makan pas nonton film di bioskop.


2. Tabula Rasa

Nonton film ini bikin nelenin ludah mulu. Sebagai penggemar kuliner Minang, kabita banget liat rendang, kikil, sambel ijo, gulai kepala kakap... Pulang nonton film ini, saya akhirnya menyerah dengan mampir ke rumah makan Padang deket rumah buat beli kikil hahaha. Film ini memang ceritanya tentang rumah makan Padang yang pegawainya ada orang papua. Konfliknya rada bawa naik turun emosi juga. Bodor, sebel, terharu nyampur jadi satu. Kalau kata saya akhirnya kayak rada gantung.


3. Senyap




Jujur ini film dokumenter terkeren yang pernah saya tonton sejauh ini. Kebetulan waktu tanggal 10 Desember memang ada gerakan 'Indonesia menonton Senyap' dalam rangka memperingati hari HAM sedunia, dan departemen saya di kampus ngadain nonton bareng. Film ini bikinan Joshua Oppenheimer yang juga bikin film 'The Act of Killing', yang masuk nominasi Oscar buat film dokumenter terbaik. Keren memang. Film ini ceritanya tentang seorang adik yang nyari kebenaran atas terbunuhnya kakaknya, yang waktu itu (tahun '65) dituduh terlibat gerakan komunis. Kita semua tahu, setelah Gerakan 30 September (G 30 S), orang-orang yang dianggap terlibat gerakan komunis dihilangkan secara paksa dan bahkan dibunuh. Rada ngeri sebenernya liat fakta-fakta baru yang saya tahu dari film ini. Dan ngerasa miris juga kenapa yang bikin film gini itu orang luar negeri. Walau sebenernya banyak juga orang Indonesia yang ikut pembuatan film ini tapi namanya 'anonim'. Ya, abis nonton film ini jadi ngebuka mata lebar banget tentang hak asasi manusia. Bahwa kita nggak bisa gitu aja lupa sama sejarah. Dan kita harus nyari tau kebeneran di balik sejarah itu. Film ini nggak sengeri yang diduga juga. Bahkan ada beberapa percakapan yang bikin ngakak hahaha.


4. 7 Hari 24 Jam



Sehari setelah nonton Senyap di kampus. Saya sama temen saya pergi nonton 7 Hari 24 Jam. Nggak direncanain sih nontonnya. Saya dari awalnya memang penasaran sama film ini gara-gara film ini come back nya Dian Satrowardoyo setelah empat taun nggak main film. Film ini ceritanya tentang suami istri yang sakit di waktu bersamaan dan dirawat di ruangan yang sama. Banyak kejadian yang terjadi selama 7 Hari 24 Jam itu. Walaupun nontonnya telat 10menitan, tapi ceritanya tetep bisa diikutin. Tapi dalam 7 Hari 24 Jam nya itu kayak kurang dimaksimalin gitu ceritanya. Tapi (maaf banyak tapinya .-.v) tetep rame kok dan sukses bikin ketawa di beberapa scene hahaha memang genrenya drama komedi sih. Dian Sastro sama Lukman Sardi mainnya oke. 


5. Pendekar Tongkat Emas
Ini dia film yang ditunggu-tunggu selama taun 2014. Walau akhirnya baru nonton di 2015 (lebih dua hari doang kok wkwk). Filmnya tentang dunia persilatan. Kalau kata mbak-mbak mas-mas yang hidup di zaman komik silat lagi hits-hitsnya, film ini tuh realisasi dari apa yang mereka bayangin. Setting filmnya keren banget! Sumba indah banget yaampuuun. Adegan silat pake tongkatnya juga keren mengingat para aktornya langsung akting sendiri tanpa stuntman. Aktor-aktornya nggak usah ditanya lagi. Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Christine Hakim, Eva Celia, Tara Basro, Slamet Rahardjo keren banget. Produser sama sutradaranya memang keren juga. Nggak tau kenapa abis nonton film ini banyak nimbulin tanda tanya. Hahaha harus ada prekuel atau sekuelnya nih kayaknya. Aaaa pokoknya i love you, Nico!
P.S. Fyi, saya nonton film ini sendirian loh di bioskop. Dan pas mau masuk studionya, ngedenger dua mas-mas bilang, "Ternyata ada yang lebih menyedihkan dari kita.." ha ha ha ha ha =)))))

P. S. (lagi)
Buat nonton film di bioskop kadang nggak harus ada temen kok. Sendirian kadang lebih asyik hahahaha. Ciao!