Pages

Sabtu, 31 Maret 2012

Antara Kebutuhan dan Keinginan

Sebenarnya agak sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, karena keduanya diperlukan oleh kita. Menurut para penulis, kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi oleh kita untuk mempertahankan keberadaan kita di bumi ini. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang tampaknya dibutuhkan tetapi sebenarnya tidak diperlukan. Kebutuhan itu terbatas sedangkan keinginan itu tidak terbatas.

Kita selalu bingung membedakan mana yang kebutuhan, dan mana yang keinginan. Terkadang kita tertukar untuk membedakan keduanya. Menurut saya yang harus diprioritaskan adalah kebutuhan, dan keinginan mungkin bisa kita laksanakan setelah kita mendapatkan apa yang kita butuhkan.

Ketika harus mendahulukan atau memprioritaskan antara kebutuhan dan keinginan, kita selalu bingung untuk memutuskannya. Saya sendiri pernah mengalami hal seperti ini. Sebagai contoh, saya selalu ingin pergi ke event-event musik, menonton sebuah film, membeli buku, kaset/cd musik, atau pengen ini lah dan pengen itu lah. Awalnya saya sangat menginginkan itu semua, bahkan rela membongkar isi celengan untuk melakukannya (sebenarnya saya tidak memiliki celengan).

Kadang setelah saya mendapatkan sesuatu yang diinginkan itu, saya baru menyadari saya tidak terlalu membutuhkannya. Pasti pada pernah mengalami kan kejadian kayak gitu. Dan kalian pasti tau rasanya gimana. Kayak yang dibilang Bang Chris nih...



When you get what you want but not what you need, stuck in reverse..

*Ayo tebak itu lagu apa cobaaaaa <-- sok asik

--

"Sekali lagi bedakan antara KEBUTUHAN dan KEINGINAN. God will provide. And do NOT confuse Passion with 'pengen'."

Kata-kata tersebut saya kutip dari twitter milik @ReneCC.


Kita tidak perlu menyesal dengan pilihan kita, jadikanlah itu sebagai sebuah pengalaman.
Yang kau inginkan tak selalu yang kau butuhkan, mungkin memang yang paling penting, cobalah untuk membuka mata, hati, telinga..
*Ayo tebak ini lagu apa juga cobaaaa?


--
Ditulis pada Minggu, 20 Juni 2010. Sebelumnya pernah dipublikasikan di blog lama yang telah dihapus. Kini dipublikasikan kembali dengan beberapa perubahan.
Sekian.

Jumat, 30 Maret 2012

Ya begitulah


Sebelum ada judulnya, saya masih bingung harus dikasih judul apa. Ya, saya memang tidak terlalu pandai membuat judul atau caption dan sebagainya. Ya, saya memang begitu. Ya terus? Ya begitulah~
--
Terima kasih telah menyisihkan waktu anda untuk membaca barisan kalimat yang (kurang) penting di atas.
--

Setiap abis baca buku, cerita, novel, komik, dsb atau abis nonton film dan baca lirik lagu biasanya suka ada perenungan *sok amat ya pake perenungan segala*. Memang itu gunanya semua hal itu diciptakan. Buku, film, lagu dibuat memang pasti selalu ada maksudnya. Seperti kita yang diciptakan Tuhan, tentu saja ada maksud dan tujuannya.

--
Hari ini, tadi jam setengah 8 maleman saya abis selesai baca Supernova: Akar-nya Dee. Silahkan liat rating-rating di internet tentang buku tersebut. Rating saya untuk buku tersebut sama dengan yang lainnya. Dan buat yang penarasan silahkan baca resensinya. Atau bahkan langsung pergi ke toko buku dan membelinya *kayak promosi ya?

Saya tau novel Akar ini sebenernya udah dari lama. FYI, Supernova ini adalah novel seri. Seri yang pertamanya 'Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh', 'Supernova: Akar' yang kedua, 'Supernova: Petir' yang ketiga, dan yang bakal terbit sebentar lagi 'Supernova: Partikel'. Sebelumnya saya udah baca seri KPBJ pas kelas 9 dan langsung kecanduan ingin baca yang selanjutnya. Baru kesampean sekarang deh nih baca Akar ini. Ini juga minjem dari temen sih hehehe.

Ada satu halaman di Akar ini yang bikin ketawa, senyum miris, dan jengkel. Halaman ini halaman paling terakhir. -Eh bentar, ini halaman terakhir di Akar cetakan I: November 2002. Saya gak tau kalau ini bakal ada di halaman terakhir cetakan-cetakan Akar yang lain. Yang pasti ini sad but true.

Tulisannya begini:


TAHUKAH ANDA…?

DO YOU KNOW…?
NYAHO TEU…?
DIBOTO HO DO…?

PEMINJAM BUKU LEBIH KEJAM DARI...
PEMBAJAKAN

Survei membuktikan, seorang pemilik buku di Indonesia rata-rata meminjamkan bukunya ke empat orang. Apabila satu judul buku dicetak 1000 kopi, maka akan ada 4000 peminjam buku dan angka ini bisa jadi lebih besar serta lebih cepat daripada kemampuan pembajak yang setidaknya masih membutuhkan modal untuk beli bahan baku, biaya cetak, dan sebagainya. Ini berarti:



PEMINJAM BUKU BAJAKAN LEBIH KEJAM LAGI



Karena merekalah yang paling tidak ngemodal, alias ‘bondo nekat (bonek). Namun, di atas segalanya, tidak ada yang lebih kejam dari:



PEMINJAM BUKU YANG TIDAK MENGEMBALIKAN



Apabila kita ingin memajukan perindustrian buku Indonesia, termasuk meningkatkan apresiasi kita terhadap karya tulis anak bangsa, marilah kita coba untuk mulai membeli dan tidak meminjam. Berhenti membajak, terlebih lagi meminjam buku bajakan.


Bagi Anda yang lantas beralasan: ‘kalau gitu, harga bukunya jangan mahal-mahal, dong!’, silakan layangkan komplain Anda ke toko-toko buku, distributor, perusahaan, kertas, percetakan, sampai pemerintah yang menentukan harga B B M , karena kenyataannya harga buku bergantung pada banyak variabel. Jadi, daripada sibuk protes, lebih baik menyisihkan 1000 perak/hari. Dalam kurang lebih satu bulan, Anda dapat menikmati informasi dan otentisitas buku tanpa harus mengandalkan orang lain. Cukup dengan menghemat 4 sms per hari, satu minuman botol, satu menit pulsa hp. Semakin besar uang yang Anda sisihkan, makin cepat pula Anda memiliki buku yang diinginkan.

MARI MENABUNG UNTUK MEMBELI BUKU!
--

Ya begitulah isi halamannya. Saya selaku 'peminjam buku' merasa cukup tersindir. Huahahahaha tapi memang bener sih ya. Tapi da mau gimana lagi, sebagai seorang pelajar saya gak punya uang banyak. Mau nabung juga susah <-- curhat. Oke. Buat semuanya biar jelas, pembelaan saya cuma satu, YANG PENTING BACA BUKUNYA! Coba tanya mba Dee penulisnya, pasti seneng banget kan kalau bukunya dibaca? Yang penting ada yang baca, ya nggak mba Dee? :P

Terlepas dari urusan peminjam buku dan pembajakan tersebut, ada hal yang paling penting. Makna dari buku tersebut. Hikmah dari buku tersebut. Perubahan dari seseorang setelah membaca buku tersebut. Bener kan itu yang diinginan para penulis selain dari tujuan komersialnya? Ya, semua pasti ada maksudnya.

Akar ini lebih ngebuka pikiran saya, nambah pengetahuan saya, dan ngebuat saya pengen cepet-cepet baca Petir dan Partikel. Banyak hal yang bisa dipelajari. Banyak hal, yang saya gak bisa sebut satu-satu tentang buku ini, yang ngebuat saya gak akan berhenti buat bertanya dan mencari jawaban.

Hidup adalah perjalanan. Perjalanan mencapai tujuan. Tujuan untuk hidup.


Ciao!